Ada kesalahan di dalam gadget ini

Sabtu, 04 September 2010

Awal mula konfrontasi Indonesia-Malaysia

Konfrontasi Indonesia Terjadi sejak tahun 1960an.
Saat ini saya yakin semua rakyat Indonesia geram, sangat geram, dengan sikap Malaysia yang nampaknya kurang menghargai hubungan rukun tetangga yang selama ini terjalin sangat apik. Disini saya ingin mengajak pembaca untuk menilik kurang lebih 50 tahun silam, tepatnya merenungkan apa yang dikatakan oleh mantan Presiden Soekarno, Jasmerah (Jangan Sekali-kali melupakan Sejarah).
Pada tahun 1962-1966 adalah awal masa konfrontasi antara Malaysia – Indonesia. Konfrontasi ini terjadi karena Malaysia melanggar perjanjian internasional konsep THE MACAPAGAL PLAN mengenai dekolonialisasi yang harus mengikut rakyat Sarawak dan Sabah yang status kedua wilayah tersebut sampai sekarang masih tercatat pada daftar Dewan Keamanan PBB sebagai wilayah Non-Self-Governing-Territories.
Singkat cerita, Inggris mencoba untuk membuat Federasi Malaysia dengan memasukan dua wilayah, Sarawak dan Sabah, koloninya sebagai bagian dari federasi tersebut. Yang secara de facto kedua wilayah tersebut berstatus “dekolonial”. Sejak saat itu, Soekarno menuduh Malaysia sebagai boneka Inggris dan menyatakan konfrontasinya, yang lebih terkenal dengan sebutan Ganyang Malaysia. Soekarno semakin germa ketika demonstrasi di Malaysia melakukan aksi protesnya dengan menginjak lambang Garuda dan membakar photo Soekarno. Hingga keluarlah pidato Soekarno yang melegenda.

Yoo...ayoo... kita... Ganjang...

Ganjang... Malaysia

Ganjang... Malaysia

Bulatkan tekad Semangat kita badja

Peluru kita banjak

Njawa kita banjak

Bila perlu satoe-satoe!

Soekarno.

PERANG Adalah akhir dari cerita dan Mati, musuh, kebencian, dan dendam adalah sisa-sisa perang.

Sejarah Berulang

Sejarah ternyata berulang, nampaknya hasilnya akan jauh berbeda. Dulu kita hadapi dengan perang dan diatas kertas klo hanya lawan Malaysia, Indonesia bisa dipastikan 1000% pasti menang. Rupanya Indonesia semakin besar, bijaksana, intelektual, dan cerdas dalam menyikapi permasalahan dan yang terpenting tidak gegabah untuk mengekspresikan emosi yang sudah terpendam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar